|
|
|
Bali Post Minggu Umanis, 5 Maret 2006 Dongeng Bali di Panggung
Teater Pentas Teater Teku Yogyakarta
Komunitas Seni (Teater) Teku
Yogyakarta, pekan lalu, tiga kali manggung di Bali membawakan lakon
"Dongeng (yang Tak Pernah Diceritakan) Rare Angon dan Lubangkuri".
Pentas digelar di tiga kota -- Negara pada Sabtu (18/2), IKIP Singaraja
pada Selasa (21/2), dan di Fakuktas Sastra Universitas Udayana Denpasar
pada Sabtu (25/2). Teater yang berpersonel para mahasiswa Jurusan
Teater ISI Yogyakarta ini tidak saja menghibur penonton, juga
memberikan "angin segar" bagi panggung teater -- terutama kalangan
teater kampus -- di Bali. Pasalnya, lakon berbasis cerita (dongeng)
Bali berhasil diaktualkan dengan kehidupan kekinian di atas panggung. ----------------- PENTAS kelompok Teku
tersebut memang menarik. Dari sisi pemeranan, misalnya, para pemainnya
rata-rata cukup kuat sebagai aktor panggung. Pun dari penyutradaraan
dan penggarapan cerita. Dari sisi cerita, ada keberanian menggarap
cerita yang sudah diketahui masyarakat umum, tapi diaktualkan dan
diselaraskan dengan masa kekinian dalam lakon drama modern.
Drama "Dongeng (yang Tak Pernah Diceritakan) Rare Angon dan Lubang
Kuri" ini berkisah tentang anak gembala bernama Rare Angon. Suatu hari,
saat sedang menggembala sapi bersama teman-temannya, Rare Angon
menggambar (di tanah) sosok gadis cantik yang dia beri nama Lubangkuri.
Tiba-tiba datang seorang raja yang sedang berburu bersama pengawalnya.
Saat melihat gambar gadis itu, sang Raja terpikat dan menanyakan kepada
Rare di mana berada gadis cantik yang dia lukis itu. Rare mengaku tidak
tahu karena ia menggambar dan menulis namanya berdasarkan khayalan
belaka.
Raja tak percaya. Ia memaksa Rare mencari gadis itu untuk dibawa
menghadap Raja. Jika tidak berhasil, ia akan dihukum berat. Singkat
cerita, Rare berhasil mendapatkan Lubangkuri menghadap Raja. Raja
sangat senang melihat gadis cantik itu, namun dia heran melihat Rare
masih hidup. Raja zalim itu mengira Rare sudah mati dimakan ular atau
harimau di tengah hutan saat mencari Lubangkuri. Sejak semula Raja
melihat Rare memiliki kekuatan bakat besar sebagai pemimpin. Perintah
untuk mencari Lubangkuri sebenarnya hanya akal-akalan Raja untuk
melenyapkan pemuda itu agar tak membahayakan bagi sang Raja.
Karena itu, disuruhnya lagi Rare pergi ke hutan untuk menangkap
harimau. Perintah ini pun dipenuhi Rare. Dia berhasil menangkap harimau
dan dibawa hidup-hidup menghadap Raja. Raja makin heran dan ketakutan.
Disuruhnya lagi Rare ke hutan menangkap naga, lagi-lagi berhasil.
Berikutnya Rare disuruh membawa sarang tawon beracun. Ia juga berhasil
membawa sarang tawon raksasa ke istana. Tawon-tawon beracun itu
kemudian keluar, beterbangan dalam istana menyerang Raja hingga tewas.
Rakyat sangat senang. Mereka sepakat mengangkat Rare menjadi raja baru.
Dongeng itu tentu sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Bali. Dongeng
inilah yang diangkat ke panggung dengan disutradarai Ibed Surgana Yuga,
pemuda asal Negara yang sedang menempuh studi teater di ISI Yogyakarta.
Drama dongeng (tradisi) ini dikemas dalam gaya penceritaan-penyajian
kontemporer. Di situ ada tokoh pencerita (sang Aku), ada tokoh Rare
Angon, Nenekku, Seseorang, Seorang Nenek, Lubangkuri, Lubangkuri yang
Lain, Seorang Perempuan, hingga tokoh Seorang Anak. Gaya Monolog
Drama ini hanya dimainkan tiga orang, masing-masing merangkap peran.
Pranorca Reindra memerankan sang Aku, Rare Angon, Seseorang, Seorang
Anak. Marya Yulitasari memerankan tokoh Lubangkuri, Lubangkuri yang
lain, Nenekku, Seorang Ibu, Seorang Perempuan. Lalu, Joe Dyah
memerankan Lubangkuri, Lubangkuri yang Lain, Nenekku, dan Seorang
Perempuan. Drama ini disajikan mirip gaya monolog, dikembangkan dengan
para pemeran mendukung atau penggambar cerita.
Diawali dengan munculnya sang Aku (seorang penggembala, pengagum Rare
Angon) sebagai pendongeng. "Aku ingin mendongeng untukmu. Dongeng masa
kecil yang pernah kudengar dari Nenek. Dongeng tentang Rare Angon yang
sudah kau hapal sejak kecil. Tapi, ah, ini pasti membosankanmu. Aku
tahu, tidurmu sekarang tak bisa lagi nyenyak oleh dongeng masa kecil.
Kau lebih suka dininabobokkan dua puluh empat jam siaran TV, atau
SMS-SMS genit menjelang tidur. Tapi, tolong dengarkan aku. Kumohon..."
Lalu hadirlah sosok Nenekku yang mendongeng pada sang Aku. Sang
pendongeng (diperankan Pranorca Reindra) berubah peran jadi sang Aku.
Begitu seterusnya nenek mendongeng, hingga muncul tokoh Rare Angon
(pemeran Aku berganti peran lagi jadi Rare Angon). Pun ketika cerita
sudah sampai pada hadirnya tokoh Seseorang, juga tokoh Seorang Anak,
pemeran pun berganti peran menjadi seseorang dan jadi Seorang Anak.
Pergantian peran dilakukan secara otomatis dengan berubah akting dan
karakter langsung di atas panggung sebagaimana pelakonan pertunjukan
monolog.
Dalam model pelakonan seperti ini, penonton harus jeli dan
berkonsentrasi penuh mengikuti alur cerita. Penonton pun, mau tak mau,
harus ikut berkhayal mengikuti imaji dan perkembangan cerita, terutama
pemeranannya, yang sewaktu-waktu berubah, terkesan diaduk-aduk, dan
tumpang tindih. Jika penonton tidak jeli, pasti jadi bingung dan tak
bisa menangkap ceritanya.
Untungnya, para pemain drama ini rata-rata punya kemampuan kuat, bisa
memainkan banyak peran sekaligus dalam satu ruang dan waktu yang sama
secara memadai. Ketiga pemain -- Pranorca Reindra, Joe Dyah N, dan
Marya Yulistasari -- ini bermain cukup bagus. Drama ini juga didukung
oleh Intan yang bertugas sebagai penata pergantian adegan, semacam
penata setting yang sekaligus dibikin sebagai "bagian" dari pelakonan
drama. Dari Obsesi
Seacar umum, harus diakui, drama ini cukup bagus dan menghibur. Namun
dari sisi cerita, drama ini terasa agak susah dipahami. Penonton yang
kurang khusuk menonton, pasti akan bingung karena alur cerita
tumpang-tindih, tidak jelas, bahkan "kabur".
Hal ini memang diakui oleh penulis naskah dan sutradaranya, Ibed
Surgana Yuga. Menurut Ibed, drama ini lahir dari obsesinya atas dongeng
di masa kanak-kanak. Dongeng Rare Angon itu terus hidup mengikuti
seiring usia Ibed. Ketika Ibed berusia empat tahun, dongeng itu usianya
empat tahun. Ketika Ibed kini berusia 23 tahun, Ibed sendiri ingin
dongeng itu juga berusia 23 tahun. Bagi Ibed, obsesi itulah yang
melahirkan konflik. "Konflik
akibat membawa dongeng dari tradisi ke kontemporer, yang akhirnya
melahirkan benturan di berbagai aspek mulai dari aspek kultural,
ideologi, hingga filosofi dan gaya hidup. Konsekuensi aktual yang
tercipta dalam pentas adalah dunia yang campur baur dan tidak jelas,
tak bisa dipilah mana yang tradisi dan mana yang modern, juga konflik
yang tak berkesudahan. Tapi, justru itu yang ingin saya capai," terang
Ibed. * nuryana asmaudi
(nb : sorry agak telat......)
Bali Post Minggu Paing, 19 Februari 2006 Nikmati Puisi dalam Pentas Teater Dari Acara PAST 2006 di Negara Puisi
ternyata tidak saja enak dinikmati saat dibacakan, dideklamasikan, atau
dalam pertunjukan musikalisasi puisi, tetapi juga sangat menarik dan
asyik dinikmati jika dihadirkan lewat pemanggungan fragmentasi puisi.
Bahkan, dalam beberapa sisi, boleh jadi bisa lebih menarik dari
pemanggungan drama atau teater. Hal itu setidaknya terlihat dalam lomba
fragmentasi puisi yang digelar oleh Komunitas Kertas Budaya (KKB)
Jembrana, pada 16 Februari 2006 lalu, serangkaian acara Pekan Apresiasi
Sastra dan Teater (PAST) 2006 pada 13-18 Februari lalu, di Negara,
Jembrana. PARA
pecinta puisi dan teater mendapatkan hiburan menarik,
pemanggungan puisi yang dikemas dalam pertunjukan fragmen, semacam
"drama-pendek" yang menarik dan menghibur, yang disuguhkan oleh peserta
lomba dari beberapa kota di Bali. Fragmentasi puisi, dramatisasi puisi, atau teatrikalisasi puisi, memang belum terlalu populer di Bali. Meski ini bukan seni baru dalam panggung seni
pertunjukan sastra modern, tetapi karena jarang dilombakan, maka
kesannya jadi masih terasa asing. Itulah salah satu alasan KKB
menggelar lomba ini. Lomba
yang digelar di Aula Kantor Depag Jembrana itu diikuti 16 peserta, tiap
peserta umumnya terdiri atas lebih dari satu personel. Mereka rata-rata
berhasil menunjukkan kebolehannya dalam memanggungkan fragmentasi puisi
dengan kualitas penggarapan yang cukup bagus. Lomba ini agaknya memang
dimaksudkan sebagai ajang eksplorasi dan upaya untuk menggali
nilai-nilai seni dalam puisi secara lebih dalam dan luas, lewat interpretasi dan eksplorasi dalam seni pertunjukan yang "melampaui" seni baca puisi atau deklamasi. Nanoq
da Kansas, Penanggung Jawab KKB dan PAST 2006, menjelaskan, sejauh ini
cara untuk mengkomunikasikan puisi lebih sering hanya lewat seni
baca puisi atau deklamasi, dengan cara yang konvensional, klise,
terpola atau terformat, dan kaku. "Jarang ada acara lomba baca puisi
yang memberikan kebebasan berekspresi seluas-luasnya pada para peserta
dalam mengeksplorasi puisi yang dibawakan. Padahal puisi memiliki
kandungan seni yang meliputi banyak unsur," terang Nanoq. Meski
demikian, Nanoq tidak menampik bahwa tak semua puisi enak untuk
dipanggungkan dalam pertunjukan fragmentasi atau dramatisasi puisi.
Karenanya, panitia sengaja memilihkan beberapa puisi yang sekiranya
memungkinkan untuk digarap dalam fragmentasi puisi. Beberapa puisi yang
dijadikan naskah lomba di antaranya "Sajak Metamorfosa" karya Heru
Emka, "Minggu Pagi di Sebuah Puisi" (Joko Pinurbo), "Istri" (Darmanto
Jaman), "Sajak Cinta" (Beni Setia), "Fotografer Parlemen" (Radar Panca
Dahana), hingga "Bah" (Nanoq da Kansas). Unsur Teater Lantas,
benarkah semua peserta berhasil mengeksplorasi puisi dalam sebuah
pertunjukan fragmentasi puisi secara memadai dalam lomba yang dinilai
oleh Issayudhi, Ibed Surgana Yuga, dan Pranorca Reindra itu? Menurut
Issayudhi, rata-rata peserta sudah tampil lumayan bagus dan nampak
punya basic teater. "Mereka nampak sudah berusaha untuk menggali dan
melakukan eksplorasi dengan mencoba memenuhi atau mengangkat unsur isi
atau pesan puisi dan sisi pertunjukannya. Ada yang cukup berhasil
tampil secara utuh mengangkat kedua unsur itu. Tapi tak sedikit yang
hanya menonjolkan salah satu sisinya, sisi pertunjukannya atau
sebaliknya, bahkan ada yang malah mengaburkan kedua unsur itu -- isi
maupun pertunjukannya sama-sama tak jelas," nilai Issayudhi. Juri
lain, Ibed Surgana Yuga, menilai ada kecenderungan rata-rata peserta
tampil seperti sedang berdeklamasi atau membacakan puisi. Menurut
mahasiswa Jurusan Teater ISI Yogyakarta ini, memang ada beberapa
kelompok peserta yang kualitas penggarapannya cukup lumayan bagus, tapi
masih cenderung menggunakan pola lama drama. Misalnya cara berucap atau
menyampaikan puisi, akting, hingga busana dan setting, yang kerap tak
selaras dengan puisi yang dibawakan. "Belum ada upaya melakukan
eksplorasi yang lebih baru, atau masih umum-umum saja," nilai Ibed. Pranorca
Reindra melihat secara umum peserta lomba bisa tampil cukup baik. Para
peserta, nilai Reindra, memiliki interpretasi dalam mengeksplorasi
puisi dengan gaya penampilan masing-masing. "Saya hanya melihat positif
dari sisi kemurnian dan keberanian mereka dalam menginterpretasikan
puisi yang dipilihnya dalam pertunjukan mereka," terang mahasiswa
Jurusan Teater ISI Yogyakarta itu. Kelemahan secara mendasar dari
rata-rata peserta, menurut Reindra, banyak yang luput dari teks puisi
yang dibawakan, menginterpretasikan secara kurang pas dalam
penampilannya, misalnya menggunakan idiom-idiom yang dipaksakan dan
tidak nyambung dengan teks. Namun,
Issayudi, Ibed, maupun Reindra, bisa memaklumi kelemahan-kelemahan yang
terjadi pada peserta. Pasalnya, peserta masih belum memahami secara
jelas apa itu fragmentasi puisi. Issayudi menyarankan perlunya diadakan
semacam workshop khusus tentang fragmentasi puisi. Ibed juga mengaku
kurang setuju dengan istilah fragmentasi puisi yang digunakan dalam
lomba. Sebab, menurutnya, secara harfiah fragmen artinya potongan atau
cuplikan, jadi kesannya lucu dan kurang tepat jika digunakan untuk
pementasan puisi. Dia lebih setuju jika dipakai istilah dramatisasi
puisi atau teatrikalisasi puisi, atau performance puisi. Sedangkan
bagi Reindra, fragmentasi puisi adalah upaya memvisualisasikan puisi ke
panggung pertunjukan, dengan menggunakan teks puisi yang
didramatisasikan ke panggung. "Ketika teks diinterpretasikan ke
panggung, maka ada penilaian-penilaian secara teatrikal. Karenanya
penampil harus memperhatikan unsur-unsur tersebut dalam
pemanggungannya," tandas Reindra. Agenda "Workshop" Lomba
fragmentasi puisi memang baru pertama kali digelar oleh KKB, bahkan
juga sepertinya baru pertama kali digelar di Bali. Jadi, wajar jika
tidak semua peserta mampu memahami secara mendalam. Apalagi sebelum
lomba digelar, tidak diadakan semacam workshop khusus tentang
fragmentasi puisi. Berbeda dengan deklamasi atau baca puisi yang sudah
begitu sering digelar atau dilombakan. Pun musikalisasi puisi, yang
dalam beberapa tahun belakangan ini kerap digelar di Bali. Dalam
acara PAST 2006 ini juga ada materi lomba musikalisasi puisi yang
digelar di tempat yang sama pada Jumat (17/2), yang diikuti 10 peserta
dari berbagai kota di Bali. Lomba ini dinilai oleh tiga juri -- Agung
Indra Cahyana, Yosi, dan Nanoq da Kansas. Menurut
Ketua Panitia PAST 2006, Kapur Semartapura, agenda acara PAST 2006,
selain lomba fragmentasi puisi, dan lomba musikalisasi puisi, juga ada
workshop teater dan sastra yang digelar di beberapa sekolah di
Jembrana, antara lain di SMPN 1 Negara pada Senin (13/2) dan di SMAN 1
Pekutatan pada Selasa (13/2)). Workshop di SMAN 1 Negara yang
dijadwalkan pada Rabu (15/2) batal karena pihak sekolah menolak dengan
tanpa alasan yang jelas. Selain itu juga diadakan "temu kangen"
antarseniman Bali dan Jawa, dan pentas drama dari Kelompok Teku
Yogyakarta pada Sabtu (18/2), yang memainkan lakon "Dongeng (yang tak
pernah diceritakan) Rare Angon" karya/sutradara Ibed Surgana Yuga. * nuryana asmaudi
|
|
|